“ Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand. Knowledge will take you from A to B but imagination will take you everywhere and therefore the true sign of intelligence is not knowledge but imagination.”
(via thehippieexperience)
(via inspiring-pictures)
(via fuckyeahhiking)
Kreativitas Yang Terasingkan: Gunung dan Pengembangan Diri
Mendaki gunung telah menjadi sebuah suatu hal yang sangat berarti dan bermanfaat untuk saya pribadi. Keindahan panorama alam, kesejukan udara yang dimilikinya, dan pengalaman serta adrenalin yang terpacu menjadi sebuah keunikan tersendiri bagi semua pendaki gunung.
Tak penting gunung apa yang di…
Pongo Adv to Gn. Papandayan (16-17 Maret 2012)

Indah Bung! Indah!
Indah! adalah satu kata yang mampu menggambarkan keunikan dan keindahan Gn. Papandayan. Gunung ini tidak akan mampu dijelaskan keindahannya melalui kata-kata yang Saya tulis, namun setidaknya bisa memberikan gambaran “kasar” bagaimana keadaan gunung ini sekarang.
Gn. Papandayan adalah gunung dengan tipe stratovolcano dan memiliki ketinggian 2655 mdpl. Jalur pendakian paling populer dari gunung ini terdapat di Cisurupan, sebuah daerah yg berada di dataran cukup tinggi dan terletak di Kabupaten Garut.
Bagi Saya pribadi dan beberapa rekan dari Pongo Adv, kali ini merupakan kali kedua bagi kami mendaki gunung yang masih mengeluarkan gas dan asap dari kawahnya tersebut.
Sebetulnya perencanaan pendakian ke Gn. Papandayan ini hanya direncanakan 2 hari sebelumnya, yaitu tepatnya pada hari Rabu, 15 Maret 2012. Setelah PONGO Adv merencanakan semuanya dan mempersiapkan yang dibutuhkan, akhirnya pada hari Jumat, 16 Maret 2012, kami berkumpul pagi hari di Terminal Cicaheum, Bandung. Yang ikut dalam pendakian kali ini adalah; Puraga Baskara Somantri (saya sendiri/penulis), Ahmad Saiful Muhtadi, Lukman Nurjaman, Robby Berlin, Perkasa Darussalam, Yudha Prawira, dan seorang teman Saya yang telah malang melintang di dunia pendakian yaitu Zubey Budi. Sebetulnya Saya dan Zubey baru bertemu sekitar satu bulan terakhir di studio, dan beliau merupakan salah satu klien saya. Namun setelah mengobrol panjang lebar ternyata beliau senang dan cukup berpengalaman dalam pendakian, tak ragu untuk saya mengajaknya dikarenakan Zubey pun sudah pernah mendaki Gn. Papandayan dengan selamat. Berbeda dengan saya dan beberapa rekan saya dari Pongo Adv yang kebanyakan masih pemula, dan 2 tahun yang lalu pun saat pendakian pertama ke Gn. Papandayan kami pernah mengalami nasib buruk yaitu tersesat sehingga harus berjalan selama 9 jam sampai bawah, Alhamdulillah Tuhan masih memberikan keselamatan bagi Saya dan rekan-rekan saat itu.
Biaya Perjalanan:
Pergi
Cicaheum - Cisurupan = Elf = Rp. 15.000,-/orang
Cisurupan - Parkiran = Dolak/Bak Terbuka = Rp. 10.000,-/orang
Pulang
Parkiran - Terminal Guntur Garut = Dolak/Bak Terbuka = Rp. 20.000,-/orang
Terminal Guntur Garut - Terminal Cicaheum = Bus “Mios” = Rp. 10.000,-/orang
Jumat, 16 Maret 2012
09:00 @ Terminal Cicaheum
Pongo Adv Team + Zubey berkumpul di terminal setelah ternyata team pun cukup “ngaret” karena rencana nya akan berkumpul tepat pada pukul 08:00. Namun hal itu tidak jadi masalah dan kami pun bersiap-siap. Sebagian dari kami ada yang bersantai menunggu dengan membeli kopi, sebagian yang lain pun mulai mengemas/packing ulang barang bawaan agar keril yang dibawa terasa nyaman saat pendakian

10:00 - 12:30 @ Termilan Cicaheum - Cisurupan
Elf mulai melaju dengan kecepatan yang bisa terbilang cukup pelan dikarenakan di awal-awal masih menaikkan penumpang. Saya sendiri sudah berpengalaman naik kendaraan semacam ini, dan sudah tahu bahwa mobil minibus tersebut ternyata “bisa” membawa penumpang hingga 25 orang. Tentunya dengan berjejal-jejal dan berdesakan. Team pun ada yang tertidur dan mengobrol sepanjang perjalanan. Tak lupa tawaran berbagai macam makanan dan minuman dari para pedagang asongan yang terkadang membuat perut kami terkocok karena public speaking yang lucu dan hebat.

12:30 - 13:00 @ Cisurupan
Kami akhirnya sampai di Cisurupan, yang merupakan jalan masuk menuju parkiran Gn. Papandayan. Begitu sampai ternyata sudah ada dolak yang menunggu, namun ternyata pemiliknya sedang Shalat Jumat. Kami memanfaatkan waktu dengan makan baso “Mas Yudha” yang terletak tidak jauh dari dolak tersebut diparkir.
Setalah siap, kami pun menaiki dolak untuk mencapai parkiran yang merupakan start awal pendakian. Waktu yang ditempuh adalah 30 menit dengan kondisi jalan yang bisa dibilang rusak dan berlubang.

13:30 @ Parkiran/Start Awal Pendakian
Team pun sampai dan bersiap-siap sekaligus mengurus kepada pos yang ada untuk memulai pendakian. Ada yang bersantai sejenak, ada juga yang mulai melakukan pemanasan. Namun anehnya ternyata pos nya kosong dan tidak ada orangnya, yang kami temui malah pecinta alam yang memang memiliki base camp di tempat tersebut. Setelah mengobrol sebentar, akhirnya kami mendapatkan info bahwa sebetulnya penjaga pos nya sudah beberapa bulan terakhir tidak ada, karena status Gn. Papandayan sendiri masih dalam kondisi Siaga 1. Namun mereka bilang tidak apa-apa untuk mendaki, kami pun membayar biaya “sukarela” kepada mereka sebanyak Rp. 3000,-/orang. Sekedar info, biaya ini tidak termasuk asuransi, artinya segala hal yang sifatnya berbahaya atau kehilangan nyawa tidak ditanggung dikarenakan penjaga pos resmi nya saja tidak mau dan ketakutan untuk mengurusnya.
Kami pun berdo’a bersama untuk kelancaran dan keselamatan perjalanan sebelum memulai berjalan

13:30 - 15:30 @ Parkiran - Pondok Salada
Perjalanan pun dimulai, dengan segenap tekad dan kekuatan yang ada kami semua berusaha melawan “Gangguan Awal” dalam pendakian, yaitu kondisi kaki yang belum panas dan adaptasi terhadap lingkungan yang belum maksimal. Kondisi ini hampir pasti terjadi pada diri setiap pendaki dengan jangka waktu berbeda-beda, rata-rata 30 menit pertama pasti merasakan hal tersebut.
Kami melalui suguhan pemandangan pertama berupa puing-puing batuan yang dulunya keluar dari kawah, tempat tersebut sangat luas. Untuk menghindari tersesat dan kehilangan arah, kami melalui jalan setapak yang bisa dilihat dengan cukup jelas. Yaitu mengarah terus ke kanan jika dari arah parkiran. Patokannya adalah jika kita berjalan terus ke kanan, maka kita akan bertemu beberapa kawah yang masih aktif dan mengeluarkan belerang yang baunya cukup menusuk hidung, dan kawah tersebut akan berada di sebelah kiri kita. Setelah berjalan melewati kawah, barulah terlihat perbukitan lain yang masih hijau oleh pepohonan, dan itulah arah yang kami tuju.
Trek pun berubah, dari yang tadinya batuan akhirnya berganti menjadi tanah yang lembab dan agak licin, beserta pepohonan di kanan kiri jalur yang ada. Jalurnya sendiri sebagian hanya cukup untuk satu kaki karena memang jalur tersebut terbentuk dari ban motor trail warga sekitar yang sering melintas menuju pondok salada. Keberanian para pengendara motor tersebut patut diacungi jempol karena medan yang dilalui cukup sulit dan terjal.
Dari arah bawah bisa terlihat selang-selang air yang megalirkan air dari Pondok Salada, dan selang-selang itu bisa terlihat dengan mudah dari arah kawah, sehingga bisa dijadikan patokan arah mana yang akan dituju.
Setelah berjalan sekian lama dan melalui trek yang variatif seperti tanah, batu-batu yang dissusun, bahkan sungai. Akhirnya kami sampai di pertigaan antara Pondok Salada dan arah ke Pangalengan, yaitu tepatnya ke arah Desa Sedep. Dua tahun lalu saya mendaki, arah ke Pondok Salada tidak terlihat karena tertutup semak-semak, namun kali ini jalur ke arah Pondok Salada sangat jelas terlihat ditambah adanya penanda arah yang menunjukan jalur tersebut. Dari pertigaan sampai ke Pondok Salada, waktu tempuh berkisar antara 15-20 menit dengan tempo berjalan yang normal.

15:30 - 15:40 @ Pondok Salada
Team pun sampai di tempat yang cukup luas tersebut. Kami bersantai sejenak dan menikmati keindahan alam di tempat tersebut. Terlihat edelweiss yang mulai bermekaran di sekitar tempat tersebut. Air dengan mudah bisa didapat di sungai dan selang air yang ada, sehingga jika mengadakan camping massal pun tempat ini sangat cocok digunakan. Kami pun tidak berlama-lama ditempat ini dikarenakan waktu yang sudah semakin sore sehingga harus melanjutkan perjalan kembali menuju Tegal Alun.

15:40 - 17:00 @ Pondok Salada - Hutan Mati - Tegal Alun
Hutan mati yang terlihat dari arah Pondok Salada tersebut memiliki keindahan tersendiri, dulunya mungkin disini lebat oleh pepohonan, namun menjadi “mati” dikarenakan aliran lahar saat meletusnya gunung ini pada 2003 silam. Sebetulnya arah menuju Tegal Alun dapat ditempuh melalui dua jalur, yaitu Hutan Mati dan Sungai Kering/Bebatuan. Dua tahun yang lalu saya dan rekan-rekan dari Pongo Adv melalui bebatuan karena tidak tahu jalur mana yang sebetulnya mengarah langsung ke arah Tegal Alun. Jalur bebatuan tersebut sangat terjal dan ternyata cukup memutar arah. Saya sarankan untuk melalui kawasan Hutan Mati karena jalurnya lebih jelas dan tidak begitu terjal.
Setelah melalui hutan mati, akhirnya kami sampai di tanjakan terakhir yang paling terjal menuju Tegal Alun. Tanjakan terakhir ini sudah memasuki hutan hidup kembali, dan jalurnya sangat jelas, tinggal ikuti jalan setapak yang terjal dan menanjak.

Perjuangan pun terasa tak sia-sia begitu kami keluar dari hutan tersebut dan bertemu dengan padang edelweiss yang sangat luas! Ya, tempat tersebut disebut Tegal Alun. Sebuah padang edelweiss yang sangat luas dan tanahnya masih tertutup debu vulkanik yang membuat kesan seolah-olah kita berada di padang sabana, namun dengan tanah yang menyerupai pasir yang lembab. Kami pun mengabadikan momen dan bersalaman di tempat ini, karena tempat ini adalah tujuan akhir kami di pendakian kali ini.
Kami memilih tidak mencapai puncak karena kami sudah pernah mencapai nya dan puncak gunung ini bisa dikatakan kurang menarik karena tidak apa-apa dan tidak seperti puncak. Hanya jalan setapak dengan lebatnya pepohonan yang ada. Bahkan seingat saya puncak nya tidak memiliki tugu triangulasi.
Setelah puas berfoto-foto, kami mencari daerah yang kami anggap strategis untuk mendirikan tenda, yaitu di dekat aliran sungai yang masih jernih sehingga gampang untuk mengambil air.
Perjalanan kami dari bawah hingga tegal alun tidak mendapatkan kesulitan yang berarti, cuaca pun sangat mendukung dengan matahari yang terlihat terus. Sangat jarang bisa mendapatkan cuaca seperti ini di Gn. Papandayan yang biasanya tertutup oleh kabut yang tebal.

17:00 @ Tempat Camp/Tenda/Tegal Alun
Dua tenda sudah didirikan, team pun bersantai dan beristirahat. Yang pertama kami buat sudah jelas yaitu air panas, ada yang membuat kopi dan merokok santai, ada juga yang membuat minuman-minuman lain. Setelah maghrib lewat, barulah team membuat makan malam. Kami baru sadar ternyata angin nya cukup besar sehingga kompor dan peralatan masak terpakas dipindahkan kedalam tenda. Menu makan malam kali ini adalah nasi liwet + rendang + sosis + nugget.
Ternyata semakin malam angin bertambah kencang, mungkin bisa kami kategorikan sebagai badai angin. Karena tenda pun bisa sampai miring dan salah satu tenda bisa sampai terbang flysheet nya. Pukul 21:00 pun kami masuk tenda dan berusaha tidur meskipun ternyata kami semua kesulitan untuk tidur dikarenakan dinding tenda yang bisa sampai menyentuh muka karena terkena serangan angin yang sangat hebat. Beberapa dari kami memutuskan mengobrol dan mencoba tidur kembali pada pukul 00:00.
Bagi Saya pribadi, pengalam saya di Gn. Papandayan kali ini merupakan pendakian dengan tidur paling tidak enak, karena terganggu angin yang menyebabkan tenda sampai miring dan doyong.

Sabtu, 17 Maret 2012
06:00 @ Tempat Camp/Tenda/Tegal Alun
Kami pun terbangun dikarenakan angin yang masih saja hebat dan hujan rintik-rintik, terlihat kabut pun mulai turun. Kami cukup terkejut saat menyadari pasak tenda kami sebagian hilang tertiup angin kencang. Sendal dan beberapa barang lainnya pun melayang sejauh 10m dari lokasi kami.
Setelah semuanya bangun, kami memasak sarapan ditengah dinginnya tiupan angin kencang, hujan, dan kabut yang tebal. Kembali memasak terpaksa dilakukan didalam tenda karena jika diluar sangat tidak memungkinkan.
Menu sarapan pagi kali ini adalah; nasi goreng + mie kuah + nugget + sosis + keju.
Setelah sarapan sebagian dari kami masih bersantai, dan sebagian lagi sudah mulai berkemas. Disinilah sebetulnya ujian sesungguhnya dalam perjalanan kami, yaitu harus berkemas dan membongkar tenda ditengah badai.

11:30 - 12:00 @ Tegal Alun - Pondok Salada
Perjalanan pulang terasa sangat cepat bahkan bisa sampai setengah berlari, hanya butuh waktu 30 menit hingga sampai Pondok Salada. Kabut masih tebal sepanjang perjalanan, hujan rintik-rintik pun menemani perjalanan kami. Berbeda dengan saat pendakian awal, saat pulang ini kami memilih turun dengan jaket karena hujan dan dingin.
12:00 - 13:30 @ Pondok Salada
Kami sampai di Pondok Salada bertepatan dengan berhentinya hujan. Kami pun memutuskan mengambil air dan memasak makanan untuk menambah stamina. Saat kami bersantai dan memasak, terlihat pendaki lain berdatangan dari arah bawah. Ternyata pendaki tersebut berasal dari Jakarta. Lalu kami bertemu dengan pendaki lain juga yang ternyata berasal dari Jakarta juga. Akhirnya kami bergabung dan makan bersama serta berbagi pengalaman. Zubey pun memutuskan bergabung dengan pendaki dari Jakarta tersebut untuk pulang mengambil jalur ke arah Pangalengan, Desa Sedep. Sebetulnya jika waktu memadai Saya dan teman-teman dari Pongo Adv pun ingin mencoba jalur tersebut, namun karena efesiensi waktu kami memilih pulang dengan jalur yang sama saat pendakian. Kami pun berpisah di pertigaan dan saling mendoakan untuk keselamatan masing-masing
14:30 @ Parkiran
Kami pun sampai dengan selamat! Ternyata di parkiran pun anginnya sangat kencang, kami pun menghangatkan diri di warung yang ada di parkiran tersebut. Ada yang memesan kopi adan yang duduk santai. Saya pun memilih bandrek karena itu merupakan minuman favorit saya untuk menghangatkan badan. Setelah cukup beristirahat, kami pun menaiki dolak yang sudah kami telepon sebelumnya untuk menjemput dan mengantar kami sampai ke Terminal Guntur Garut. Selanjutnya kami menaiki Bus jurusan Garut - Bandung yang menuju ke Terminal Cicaheum.
Menurut saya, Gn. Papandayan selalu memiliki cerita tersendiri berapa kali pun kita mendaki nya. Bahkan kami sempat kehilangan arah karena kabut yang tebal. Badai Angin pun menjadi ujian terberat kami. Namun kami tidak akan pernah bosan untuk mendaki gunung ini, karena eksotisme alam nya, pengalamannya, dan variasi jalur nya akan selalu membuat kami “kangen” terhadap Gn. Papandayan.
Terima kasih Gn. Papandayan, Terima kasih Pongo Adv, dan special thanks untuk kang Zubey! Alhamdulillah!
Wassalam…
Asongan Say….
- Sobat! Sok galeuh ieu dukuh, ceban weh sadayana. Saya teh ieu kanggo mayar hutang ka Pak Haji Olih, saya ge nepi kabur ka Palembang. Apes!
- Aqua a, Aqua a, mijon, mijon.
- Ya ieu sawo kang digaleuh kang sawo na, 15 rebu weh kang dijamin giung ieu mah sae pisan (beberapa detik kemudian). Sok atuh kang 12 rebu weh…… Sok atuh kang 10 rebu weh…… Sok atuh kang ieu 5rb weh dijamin moal rugi.

(via ohmothernature)
“ Fear is the path to the dark side. Fear leads to anger, anger leads to hate, hate leads to suffering.”
(via thehippieexperience)
(via thehippieexperience)